Cicipi Lezatnya Roti Raja Bakery Kreasi Warga Binaan Lapas Bandar Lampung yang Bikin Jatuh Hati

122 views

Lampung — Roti Raja Bakery produk UMKM hasil karya warga binaan Lapas Kelas I Bandar Lampung semakin menjadi unggulan. Pasalnya, aroma roti yang baru matang memenuhi sudut ruang produksi Raja Bakery di Lapas Kelas I Bandar Lampung.

Di atas meja kerja, adonan-adonan yang telah melalui proses pencampuran, fermentasi, hingga pembentukan tersusun rapi menunggu giliran masuk ke dalam oven. Siapa sangka, ratusan roti dengan tampilan menggugah selera itu merupakan hasil karya tangan-tangan warga binaan.

Setiap hari, para warga binaan yang tergabung dalam program bakery memulai aktivitas sejak pagi. Mereka menimbang bahan, mengolah adonan, membentuk roti, hingga memastikan setiap produk memiliki kualitas yang sama sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Kepala Lapas Kelas I Bandar Lampung Ike Rahmawati,
diwakili Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Bandar Lampung, Medi Oktafiansyah menjelaskan, bahwa Raja Bakery menjadi salah satu program unggulan pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan dan kemampuan ekonomi untuk masa depan mereka.

“Rata-rata setiap hari kami mengolah sekitar 8 kilogram adonan. Dari jumlah tersebut bisa menghasilkan kurang lebih 350 piece roti yang dipasarkan kepada pelanggan,” ujar Medi Oktafiansyah didampingi Mario Fillie sebagai Kepala Seksi Pengolahan Hasil Kerja saat diwawancarai di lokasi produksi pada, Jumat 5 Juni 2026.

Di balik kesibukan itu, terdapat proses panjang yang harus dilalui. Adonan yang telah dicampur tidak serta-merta langsung dipanggang. Mulai dari proses pengadukan, fermentasi, pembentukan hingga pengembangan adonan dilakukan dengan standar yang sama seperti industri bakery pada umumnya.

Hasilnya, Raja Bakery kini mampu menghasilkan sedikitnya 16 varian roti. Setiap harinya sekitar tujuh hingga sepuluh varian diproduksi sesuai permintaan pasar. Roti cokelat dan roti O atau yang dikenal sebagai roti boy menjadi dua produk yang paling banyak dicari pelanggan.

Menurut Medi, Raja Bakery menggunakan bahan baku premium mulai dari tepung terigu berkualitas, cokelat, mentega, hingga berbagai bahan pendukung lainnya. Pemilihan bahan tersebut menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan produk dengan cita rasa yang mampu bersaing dengan bakery ternama.

“Kalau bicara rasa, kami sangat percaya diri. Bahan baku yang digunakan premium. Jadi meskipun diproduksi di dalam lapas, kualitasnya tidak kalah dengan produk bakery yang sudah memiliki nama besar di Lampung,” katanya.

Kepercayaan diri itu bukan tanpa alasan. Setiap hari ratusan roti yang diproduksi selalu terserap pasar. Pemasaran dilakukan melalui sistem pemesanan atau buy order yang berasal dari lingkungan internal maupun masyarakat umum, termasuk berbagai rekanan dan pelanggan di luar lapas.

Menariknya, seluruh varian dijual dengan harga yang sama yakni Rp5.000 per buah. Meski harga terjangkau, kualitas bahan yang digunakan tidak main-main. “Alhamdulillah, produksi yang kami buat setiap hari selalu habis. Artinya masyarakat menerima dan percaya terhadap kualitas produk yang kami hasilkan,” ujarnya.

Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Bandar Lampung, Medi Oktafiansyah didampingi Mario Fillie sebagai Kepala Seksi Pengolahan Hasil Kerja menambahkan, bagi pihak lapas, keberhasilan Raja Bakery tidak semata diukur dari jumlah roti yang terjual. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana program ini mampu menjadi sarana pembinaan bagi warga binaan.

Melalui kegiatan tersebut, warga binaan tidak hanya belajar membuat roti, tetapi juga memahami manajemen produksi, menjaga kualitas produk, hingga mengenal dunia usaha secara langsung. Semua keterampilan itu diharapkan menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

“Kegiatan bakery ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian. Tujuan utamanya agar mereka memiliki keterampilan yang bisa digunakan sebagai bekal ekonomi setelah bebas nanti,” kata Medi.

Program bakery di Lapas Kelas I Bandar Lampung sendiri telah berjalan sejak tahun 2021. Pada awal pelaksanaannya, pihak lapas menggandeng Boga 88 untuk memberikan pelatihan kepada warga binaan. Para chef pastry didatangkan langsung guna mengajarkan teknik pembuatan roti secara profesional.

Bahkan sejumlah peralatan produksi juga diperoleh melalui dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak. Dari sinilah kemampuan para warga binaan terus berkembang hingga mampu menghasilkan produk yang kini dikenal masyarakat dengan merek Raja Bakery.

Hasil pembinaan tersebut mulai terlihat nyata. Saat ini empat warga binaan yang aktif di unit bakery telah mengantongi sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan yang mereka miliki telah diakui secara nasional dan dapat digunakan sebagai modal ketika mencari pekerjaan maupun membuka usaha sendiri setelah bebas.

Tak hanya itu, Raja Bakery juga telah memiliki sertifikat merek yang terdaftar secara resmi pada Kementerian Hukum. Dengan demikian, nama Raja Bakery kini telah memiliki perlindungan hukum sebagai merek dagang produk roti yang diproduksi oleh Lapas Kelas I Bandar Lampung.

“Harapan kami, ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka sudah punya keterampilan, pengalaman, bahkan sertifikat profesi. Jadi mereka memiliki peluang lebih besar untuk mandiri secara ekonomi,” ujar Medi.

Tak hanya membekali warga binaan dengan kemampuan teknis, Raja Bakery juga terus melakukan inovasi produk. Berbagai varian baru seperti roti keju susu, roti abon, roti kelapa, hingga brownies cokelat dan brownies tape terus dikembangkan berdasarkan respons pasar.

Menariknya, proses pengembangan produk juga melibatkan mantan warga binaan yang pernah mengikuti program ini. Beberapa di antaranya kini telah berhasil menjalankan usaha bakery sendiri dan kembali ke lapas untuk berbagi pengalaman serta memberikan pelatihan kepada peserta baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *